Jembatan Merah dalam kenangan Ket Min

Tersebutlah seorang tuan tanah bernama Tan Tek Hok, pemilik tanah dan banyak bangunan toko yang menjadi daya tarik datangnya para pedagang dari daratan Cina untuk mencoba nasib mereka.

 
Di kawasan ini ada satu-dua bangunan toko yang masih seperti aslinya. Toko Priya yang menjual seragam sekolah, pramuka sampai baju tentara, pegawai negeri dan banyak lagi.
Toko Prya dulunya bernama toko Tjun Tieng yang masih asli, sampai pintu kayunya.
 
Tepat di sebelahnya juga toko dengan bangunan yang masih seperti aslinya, terutama di bagian atapnya, adalah toko Sinar Jaya yang sejak dulu menjual sepeda dan mesin jahit merek Singer. Dulunya bernama toko Sin Hoat Hin.
 
Beruntung, Ket Min, gernerasi kedua pemilik toko sepeda dan mesin jahit ini masih dapat berceritera tentang sejarah kawasan Jembatan Merah ini. Ayahnya menyewa toko ini sekitar tahun 1950 akhir, ketika itu usianya sudah 17 tahun.
Harga sewanya, menurut ingatan Ket Min, limapuluh rupiah per bulannya. Baru tahun 1983, atas inisiatif Ket Min, toko itu dibeli dengan harga delapan juta rupiah.
 
Bentuk bangunan keseluruhannya seperti kipas dan menurut kepercayaan orang dagang, masuk keluar duitnya gampang. Masuknya gampang, keluarnya juga gampang...
 
Jembatan Merah dibangun pada masa penjajahan Portugis ini jalannya diperlebar oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai jalan itama yang memiliki akses jalan yang dilalui oleh mobil-mobil besar milik tentara Hindia-Belanda menuju ke banyak tempat, seperti Leuwiliang, Gunung Batu dan sebagainya.
 
Kawasan ini sangat indan dan nyaman pada masa pemerintahan Hindia –Belanda, ditambah lagi dengan hadirnya sebuah taman kota bernama Kebun Kembang. Walaupun diasebuh Kebun Kembang, tetapi tidak banyak kembang di sana. Lebuh banyak kehijauan rumput dan pohon, begitu seingat Ket Min.
Kendaraan yang lalu lalang kebanyakan delman dan sedikit sepeda. Namun, di sore hari banyak orang dari berbagai etnis bersantai di kebun kembang ini.
 
Sebuah penjara yang hingga sekarang masih difungsikan, Penjara Paledang, dibangun sejak zaman Hindia Belanda. Letaknya di pinggir kali yang curam.
 
Sejak dulu, di kawasan ini didominasi oleh jajaran kios makanan. Satu-satunya rumahmakan Cina di kawasan itu bernama Rumahmakan Hongkong yang terletak di lantai dua, sedqangkan di lantai satu adalah toko Apolo yang menjual alat-alat tulis. Gedung berlantai dua ini kemudian berganti nama menjadi Toko Terang, hingga sekarang.
 
Jalan kecil bernama jalan Depris yang dulunya adalah De Vries Straat, sejak dulu terkenal dengan aneka makanan seperti Doclang dan kue Pancong. Setiap pagi hari, pedagang Doclang diserbu oleh para pekerja kantor untuk sarapan sebalum menuju stasiun kereta api untuk pergi ke tempat kerjanya masing-masing.
 
Walaupun sekarang Jembatan Merah sudah sangat kacau balau lalulintas dan tata bangunannya, namun masih terlihat sedikit sisa kejayaannya sebagai sebuah kota perdagangan yang bergengsi di masa silam.
 

Tak jauh dari kawasan Jembatan Merah, ditemui sdebuah kawasan yang tersembunyi : Kawasan Kota Paris yang dibangun oleh Daendels yang memimpikan suasana kota Paris di kawasan Buitenzorg. Nyaman, asri, sejuk, elok dan menghadap ke keindahan Gunung Salak yang megah…. (Wicky S/ Ft: Rina WS)

Visit Indonesia 2008