Batu-batu Prasasti Prabu Siliwangi bertebaran di Bogor
Batu prasasti melambangkan bahwa di kawasan itu pernah ada satu kehidupan agung dari orantg-orang yang sangat berkuasa. Pada masa itu, segala sesuatunya di ‘tulis’ di atas batu. Prasasti adalah ‘buku catatan’ sejarah di masa lalu. Dan, di sekeliling Bogor, banyak sekali ditemukan batu-batu prasasti.
Huruf sansekerta dari masa kejayaan kerajaan Tarumanegara hingga Siliwangi dapat diamati dari prasasti seperti Prasasti Ciaruteun yang diatas batu itu jejak kaki raja Purnawarman yang dianggap sebagai titisan Dewa Wishnu, sekitar abad kelima terpatri di sana. Bukan itu saja, di atas batu prasasti ini terdapat tulisan tangannya. Situs ini konon masih tetap terjaga di tempat ditemukannya, di sekitar sungai Ciaruteun.
Prasasti Kaki Gajah yang berwarna kecoklatan, terdapat sepasang jejak kaki gajah bernama Airawata yang diyakini adalah kendaraan raja Purnawarman. Konon menurut mitosnya, gajah ini adalah milik dewa Indra.
Prasasti Batutulis yang paling terkenal dan masih berdiri tegak bersama batu-batu prasasti kecil lainnya di tengah kota Bogor, banyak berceritera tentang kerajaan Siliwangi yang ditulis sendiri oleh Sri Baduga Maharaja Ratu Aji dari Pakuan Pajajaran yang juga disebut Ratu Sang Dewata. Prasasti Batutulis bisa dikatakan paling istimewa, selain ditulis tangan oleh Sang Prabu, juga terdapat beberapa batu yang leb ih kecil dengan jejak lutut dan kaki Sang Prabu. Dipercaya, Sang Prabu ketika itu menulis dalam keadaan berlutut.
Dicatatkan dalam tulisan pada prasasti Batutulis, bagaimana Sang Prabu sangat memperhatikan “wong cilik” negerinya. Sang Prabu juga sudah membuat parit pertahanan Pakuan dan hutan Samidan yang artinya hutan buatan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan pembenihan kayu langka yang kini menjadi Kebun Raya.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa Raffles dan Van den Bosch sdebenarnya lebih sebagai ‘penyelamat’ karya Sang Prabu Siliwangi. (sumber:wikipedia Indonesia)



