Gedung Pusat Pencicipan Teh : Warisan dari Buitenzorg
Siapapun pencinta arsitektur dan peninggalan gedung tua di zaman Kolonial Belanda pasti tidak akan menolak untuk dapat memasuki gedung yang berdiri megah di sekitaran Taman Kencana- Bogor ini.
Memasuki gedung yang masih cukup terawat ini, mata sudah terpikat pada sebuah batun prasasti dari marmer yang tertanam di tembok dengan tulisan berbahasa Belanda perihal peletakan batu pertamanya. Kemudian sebuah pintu kayu tinggi dan besar, seirama dengan pintu keluar masuknya dan pintu-pibtu lainnya, tercantum tulisan kecil : “Directeur”.
Seorang arsitek berkebangsaan Belanda kelahieran Tulung Agung Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels tahun 1926 diberi tugas oleh Algemeen Landbouw Syndikaat (Sindikat Pertanian Umum) untuk membuat disain sketsa sebuah gedung yang akan dipakai sebagai pusat pebcicipan teh. Sebelumnya, sindikat ini sudah memberi tugas tersebut pada arsitek lain, Kolling. Namun, hasilnya kurang memuaskan dan tidak memenuhi standar. Rancangan Kolling ditolak.
Kompleks gedung ini sangat luas dan semua bangunan pendukungnya membentuk huruf “U “ dengan sebuah taman yang teduh di hadapannya. Sayangnya, kesatuan asri kompleks ini terpotong oleh jalan raya. Gedung-gedung pendukung nya sebagian besar telah berubah fungsi menjadi tempat komersial.
Dalam sketsa rancangan Ghijsels, gedung utama terdiri dari tiga ruangan di bagian depannya untuk keperluan ilmu pertanian, museum dan ilmu perencanaan. Agak ke belakang ada sebuah ruangan besar yang disediakan untuk pertemuan atau di masa itu disebut “vergadering zaal” yang dilengkapi dengan sudut-sudut tempat duduk untuk bersantai.
Gedung-gedung pendukung dirancang untuk pengembangan berbagai ilmu penunujang, seperti ilmu kimia, ruang laboratorium, ilmu perkebunan, pertanian, pembibitab, arsip dan lainnya.
Rencana yang digambar oleh Ghijsels ini mernempatkan pintu masuk di bagian tengah bangunan utama dengan ruangan sayap di setiap sudutnya. Atapnyab tinggi dan curam.
Sebelah tengah muka gedung berkonstruksi batu kali yang alami.
Gedung Pencicipan Teh ini diresmikan tanggal 24 September 1927 dan menurut catatan Ghijsels yang mengendarai mobil dari Batavia, banyak sekali pengusaha perkebunan yang hadir di Buitenzorg ini.
Kini, gedung utama ini menjadi Gedung Lembaga Penelitian Bioteknologi. Ruangan tengah menjadi perpustakaan dengan meja dan kursi yang tetap asli di tengah ruangan. Ruang perpustakaan bertingkat dua yang sangat cantik dan indah. Dari jendela atas ruang perpustakaan ini, terdapat sebuah tanki besar yang pernah berfungsi sebagai bak penampungan air hujan untuk penelitian kualitas air hujan. Tentunya sangat bermanfaat untuk menciptakan kualitas teh yang baik di perkebuhan teh seluruh nusantara ini.
(Wicky S/ sumber : Ir. F.J.L. Ghijsels Architect in Indonesia)



