Makam Raden Saleh Syarif Bustaman

Pelukis legendaris Raden Saleh, satu-satunya pelukis Indonesia yang berkiprah di abad 19 dan dianugerahi sebutan pahlawan nasional. Terbaring tenang di makam bermonumen di sebuah gang kecil bernama gang Raden Saleh.

 
Sebuah papan penunjuk yang cukup besar di tepi jalan Pahlawan, kawasan Bondongan, Bogor terpampang tulisan “Makam Raden Saleh” Seharusnya tampak jelas kalau saja di sepanjang jalan yang menjadi kawasan bisnis ini tidak semerawut .
 
Gang Raden Saleh bersih dan rapih, kira-kira 300 meter berjalan kaki, akan ditemui area makam dengan dua buah makam. Tidak ada tulisan apa-apa di atas batu nisan kedua makam berwarna putih bersih tersebut. Makam itu juga sepi dan satu-satunya, Sebuah prasasti b esar bertuliskan Raden Saleh Syarif Bustaman, lahir di Semarang kira-kira 1813/1814 wafat di Bogor, 23 April 1880.
Makam itu dibangun tanggal tujuh September 1953 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno.
 
Pelukis Raden Saleh adalah seorang bangsawan dari keturunan Kyai Ngabehi Kertoboso Bustaman (1681-1753). Ibunya, Mas Adjeng Zarip Hoesen tinggal di daerah Terbaya, dekat Semarang.
 
Sejak usia sepuluh tahun, Raden Saleh diserahkan oleh pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda. Kegemarannya menggambar mulai terlihat saat duduk di Sekolah Rakyat (SD). Tentu saja Raden Saleh tidak punya hambatan untuk berguru menggambar di lingkungan orang Belanda. Bahkan mendapat dukungan dari Gubernur Jendral Van der Capellen yang memerintah di Hindia Belanda ketika itu (1819-1826). Raden Saleh mendapat bea siswa ke negeri Belanda.
 
Semangat dan bakatnya terus mengantar raden Saleh akhirnya memilih jalur hidupnya sebagai seorang pelukis. Di negeri Belanda sdelain kemudian menikahi seorang noni Belanda yang kaya raya juga menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.
 
Raden Saleh selalu mengenakan pakaian seorang raja Jawa di setiap kesempatan. Inilah salah satu pembuktiannya bahwa dia cinta pada negerinya di tengah tuidingan sebagai penghianat bangsa oleh bangsanya sendiri.
 
Lukisan fenomenal Raden Saleh bertemakan perkelahian satwa buas. Raden Saleh memiliki sebuah rumah besar dengan tanah yang sangat luas di kawasan Cikini, Jakarta yang kini masih dapat dilihat di lokasi Rumahsakit Cikini hingga ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Nama jalan itu mengambil dari namanya : Raden Saleh.
 
(Wicky S/ sumber nusantara .com).

Visit Indonesia 2008